Friday, May 27, 2016

TUGINEM (3)



Ditengah Ketidakpastian Informasi


Perjalanan ke bukit sangat berbeda dari hari biasa. Tak mungkin untuk melaju kencang karena padatnya jalanan dipenuh sesaki oleh masyarakat yang berbondong naik di ketinggian. Itulah hebatnya isu tsunami. Sejenak kami berhenti di tanjakan yang cukup tinggi. Beberapa orang mendekati kami. Ternyata mereka adalah warga kampong seberang sungai. 
Dengan kondisi tubuh sebagian berdarah merekapun menanyakan dan sekaligus menceriterakan berbagai hal. Menanyakan keadaan dan keamanan rumah , dimana saudara dan atau anak yang belum bertemu , dsb. Dan kamipun berusaha memberikan keterangan sejauh yang kami tahu. Terbukti kan ? Bahwa masing-masing kita adalah pelaku utama alias tokoh dalam sebuah pentas besar yang berlangsung tak sampai semenit tersebut, namun dampaknya bias bertahun-tahun bahkan menimbulkan trauma berkepanjangan. Belakangan kita akan tahu bahwa sampai kini pun masih ada yang belum berani tidur di bawah atap genteng. Dari ketinggian seperti ini kami bisa melihat hamparan lembah dan ngarai di bawah sana. Hampir semua berwarna putih kecoklatan bahkan kehitaman. Di ufuk utara merapi masih mengepulkan asap coklat-kehitaman dan terlihat ujungnya di arah barat mengikuti arah tiupan angin. Tiba-tiba ada raungan suara motor trail dari bawah. Tak lama sampailah di hadapan kami. Berkaos jingga mereka berboncengan . Yang seorang menenteng HT. Setelah saling sapa kami segera tahu bahwa mereka adalah anggota tim SAR Parangtritis yang datang memang  untuk memantau keadaan serta menginformasikan kepada masyarakat bahwa tsunami itu tidak ada, hanya sebatas isyu. Dan merekapun belum tahu siapakah yang pertama kali menghembuskan isyu tersebut. Mendengarkan penjelasan yang detail dan akurat serta up to date dari mereka sedikit banyak membantu meredakan kepanikan. Perlu juga ditambahkan di sini bahwa sarana komunikasi berupa handphone pada hari itu betul-betul blank alias tak ada sinyal. (Pada hari Senin, 29 Mei, dua hari setelah itu, barulah secara acak hp kami mendapatkan sinyal yang ternyata bertulisan “Pandak.”). Beberapa saat kemudian kamipun meluncur turun  bermaksud kembali ke pengungsian warga. Sesampainya di sana kami informasikan apa yang kami dengar dari tim SAR sebelumnya. Disepakatilah bahwa sebagian warga terutama ibu-ibu, balita dan orang-orang tua untuk sementara tetap bertahan di tempat pengungsian sementara yang lain kembali ke rumah untuk melakukan berbagai hal. Di tengah gempa-gempa susulan yang masih cukup besar warga pun melakukan konsolidasi, sementara sebagaian yang lain melakukan pertolongan serta pembersihan beberapa lokasi . Posko-posko pengungsian dan dapur umum pun segera didirikan. Tenda-tenda dipancangkan memanjang. Pada menjelang tengah hari gempa susulan yang cukup besarpun kembali mengguncang kami. Suasana panic dan mencekam kembali mencengkeram. Bahkan muncul isu akan adanya gempa susulan yang lebih besar dari gempa utama. Pada sisi lain, dengan ketiadaan aliran listrik, kami seolah kembali menapaki masa-masa tahun 80 an. (lanjut ke sini)

No comments:

Post a Comment

Bensae Community is dedicated to be a virtual home for empowerment and enlightenment. Thanks for visiting.